Sahur yuuk… (Day 5)

By: Darin Sahiba

Biar kuat maka kita harus mempersiapkan, isi perut dengan sebaik-baiknya (bukan sekenyang-kenyangnya) menurut kadar ideal setiap perut yang pasti berbeda-beda. Jangan lupa kita akan berjuang seharian penuh diiringi dengan kerja-kerja lainnya pula, terutama ibadah-ibadah yang memang harus kita tingkatkan. Dan memang tenaga yang akan kita habiskan justru bisa lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa, makanya butuh persiapan.

Sahurpun ahirnya sangat dianjurkan, dahsyatnya Islam yang memang menginginkan kesempurnaan ibadah, bukan sekedar tahan-tahanan, yang dicari bukan sekdar orang-orang yang tersiksa dengan perut keroncongan, tapi orang-orang yang basa lebih mendekatkan dirinya kepada Allah dengan jalan berpuasa itu, meningkatkan satu derajat ketakwaannya hingga mencapai tingkat tertinggi, dan ini hanya bisa dicapai bagi orang yang siap, baik fisik maupun mentalnya. Karena fisik juga mempengaruhi mental maka persiapan-persiaan fisik harus mendapat perhatian lebih pula. Islam agama yang sedemikian rapi mengatur segala lini kehidupan, semua aturan sudah teruji dan tepat
Islam bukan hanya orang-orang yang siap di hati saja, dengan bekal ketakwaannya ia berlebih-lebihan memilih tidak sahur, agar bias lebih menghayati katanya, agar benar-benar terasa puasa timpalnya lagi, Islam tidak butuh pengorbanan-pengorbanan yang bahkan berlebih-lebihan seperti itu, Bahkan waktu sahur lebih diutamakn jika diakhirkan, kembali ini semata-mata agar kita bisa melaksanakan puasa dengan maksimal, dengan ibadah-ibadah tambahannya tentunya.

Sahur untuk mempersiapkan diri hingga bias maksimal saat beribadah nanti, jadi patokannya adalah kebutuhan kita agar bisa beribadah maksimal, maka tak salah jika nabi masih memperbolehkan seorang sahabat menghabiskan makan sahurnya meski adzan subuh telah terdengan ketika ia memang masih membutuhkannya, karena tujuan utamanya adalah kepada keoptimalan ibadah maka berbagai persiapan yang memang dibutuhkan pun diperbolehkan meskipun waktunya telah lewat. Aturan-aturan mengenai puasa bukanlah hal yang diskrit atau saklek, ada banyak fleksibilitas yang bisa kita temui, kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah.

Sahur kitapun tidak sekedar makan biasa, namun kita meniatkan sebagai persiapan ibadah kepadanya, agar produktifitas kita tetap tinggi bahkan bisa lebi tinggi dibandingkan hari-hari biasa, sahur kita kini bisa lebh berarti tidak sekedar mengenyangkan sekenyang-kenyangnya hingga malah membuat kita tidak bisa bergerak ke masjid untuk sholat subuh, atau juga tidak sahur yang merasa kuat dengan bangganya menunjukkan ketahanan diri dengan tidak sahur sekalian.

Akhirnya sahurpun merupakan sebuah tanda ketundukan kita, pada taraf minimal ketika kita tidak mengetahui hikmah sebuah perintah maka kita cukup meyakini saja bahwa apa yang dikerjakan Rasulullah maka kita wajib membelanya serta melaksanakannya, Beliau mengakhirkan sahur maka kitapun mengikutinya.

Hmmm…. Besok sahur apa ya….
Mau barengan gak…?

Wallahu’alam

0 Tanggapan ke “Sahur yuuk… (Day 5)”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




aldrino….

Tulisan Ngasal Gak usah digubris... Biar pikiran gak mampet Supaya pinter nulis Pingin jadi seleb blog Agar bisa kaya Tapi, yang penting "bergerak" deh biar gak dikatai "mayat".

The Journey

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Campaign












Katanya yang terbaik

Udah tenar belum??

  • 5,065 hits