By: Darin Sahiba (Seri “30 Hari Menggapai Cinta” )
30 menit lagi…… Lihat jam lama sekali jarumnya bergerak…
20 menit lagi…… Terasa makin lama, ingin sekali kuputar jam itu agar segera berbuka
10 menit lagi…… Oh perutku sudah semakin tak sabaran
5 menit lagi …. Makanan dan minuman sudah tersedia tinggal menunggu instruksi untuk segera dilahap.
1 menit lagi… akhirnya..
Buka…. Alhamdulillah… hmmm. Satu gigitan pertama kurma manis itu terasa seperti makanan terenak diseluruh dunia, saat ia meluncur masuk kedalam lambung, terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan
Segera sirup dingin itu menyegarkan tenggorakan yang sudah sangat kering sekali, Alhamdulillah…. Luar biasa, terasa tidak ada kenikmatan dunia selain ini.
Makan makanan ringan, setelah itu kenyang, selera makan yang besar tadi hilang, yang memaksakan diri terus melahap, ini bukan keinginan perut lagi tapi sudah dikuasai nafsu, mata yang lebih kelaparan, padahal perut sudah cukup kenyang diisi secukupnya diawal.
Kita sering tenggelam dalam fenomena buka berlebih-lebihan, jebakan setan yang gampang mengenai siapa saja, esensi menahan saat berpuasa seharian tadi seketika itu hilang, latihan yang tidak menunjukkan hasil pada saat ujian sebenarnya, puasa yang seharusnya sarana latihan, menekan nafsu kita agar bisa lebih dikendalikan nantinya setelah puasa selesai, namunsepertinya latihan kita sia-sia belaka.
Selain jangan berlebih-lebihan, buka juga harus disegerakan, untuk mendapatkan kenikmatan bersyukurnya dan tentunya agar bisa maksimal dikelanjutan ibadah setelahnya, sholat maghrib dan sholat-sholat lain setelahnya. Segera berbuka lalu segera siap wudhu dan sholat berjama’ah di masjid.
Buka juga memberi nilai sosial yang luar biasa. Buka bersama, makan gratisan dengan menu beragam disatu masjid ke masjid lainnya, indahnya sifat saling berbagi, ganjarannya juga luar biasa, pahala tanpa mengurangi sedikitpun, berbagi bukaan dan makan bersama, sifat social yang dilatih untuk mau berbagi kelebihan rezeki makanan kita, mementingkan orang lain lebhi daripada diri sendiri.
Akhirnya, buka mempunyai nilai yang jauh lebih dari sekedar memuaskan hawa nafsu setelah seharian tersiksa menahan lapar dan segala perasaan tidak enak lainnya, tapi esensi syukur. Merasakan betapa nikmatnya bahkan seteguk air putih biasa, yang tidak pernah dipungut biaya diwarung makan manpun, tapi saat berbuka menajdi sebuah kenikmatan yang luar biasa, menyegarkan tenggoorokan yang kering, kesegaran tiada tara.
Bayangkan betapa kurang bersyukurnya kita sehari2, ynag mungkin masih dimudahkan hanya sekedar minum air putih, tapi pada keadaan tertentu air putih sudah lebih ari nikmat yang harus disyukuri
Alhamdulillah…. Nanti giliran buka gratisan di masjid mana ya..?
Wallahu’alam

0 Tanggapan ke “Akhirnya Buka…! Alhamdulillah…! (Day 6)”