Udara malam yang dingin seakan tidak bisa mempengaruhi Harun, ia tetap saja merasa kepanasan, segera ia keluar dari kamar yang penuh sesak itu, rumah ini sangat gelap dimalam hari, hanya satu lampu didepan teras rumah yang dinyalakan, ini memang sudah menjadi kebiasaan mereka untuk tidak menyalakan lampu dimalam hari, selain untuk lebih menghemat listrik juga merupakan sunnah nabi begitu kata Zaid berceramah, yang lain sebagai penghuni rumah hanya ikut saja perintahnya, apalagi Harun yang hanya sebagai penumpang disini, kadang ia merasa tidak enak juga bila terus berlama-lama berada dirumah ini, ia sudah dewasa seharusnya bisa hidup sendiri tidak menumpang dirumah orang lain lagi, pernah ia memikirkan suatu hari harus bisa lepas dari keluarga ini, lepas dari kehidupan masa lalunya, ia berfikir selama ia masih bersama zaky maka kenangan pedih masa lalunya akan selalu kembali menghantuinya.
Sungguh sebenarnya ia sangat kerasan tinggal disana, zaid dan istrinya azka, sangat baik padanya, dan sudah menganggapnya keluarga sendiri, juga zaky teman baiknya sejak lama, berat sekali rasanya jika harus meninggalkan mereka semua, namun jika rencananya ingin bergabung dengan pasukan perlawanan terpenuhi iapun harus rela meninggalkan mereka semua.
Harun mengambil minum didapur, langsung diteguknya habis satu gelas penuh, ia sangat kehausan, setelah mimpi buruk yang menguras banyak keringatnya. Air dingin itu walaupun tanpa rasa benar-benar menyegarkannya, ia mengambil lagi air satu gelas penuh dan langsung dihabiskannya.
Kembali ia memikirkan masa depannya, apa yang harus dilakukannya sekarang, ia benar-benar seperti tidak punya masa depan, namun memang itulah yang terjadi bagi semua orang disini, masa depan yang tidak jelas, mereka tidak bisa menyusun rencana-rencana impian mereka bertahun-tahun mendatang, karena keyakinan bisa tetap hidup saja tidak ada, ya, mereka bisa mati kapan saja dalam keadaan kacau seperti ini, roket-roket israel bisa kapan saja menghantam rumah mereka, dan buyarlah segala impian masa depan mereka, harun hendak kembali kekamarnya untuk meneruskan tidur, atau tetap merenung diatas kasurnya saja, langkahnya terhenti setelah mendengar suara berdehem diluar, siapa itu, ia penasaran dengan suara itu, di tengah malam seperti ini ada orang didepan rumah mereka, apakah pencuri? Walaupun dalam kondisi kacau seperti ini masih tetap ada saja orang yang berbuat jahat, walaupun sama-sama menderita orang itu ingin menambahkan penderitaan saudaranya dengan mencuri, perlahan didekatinya teras depan rumahnya.
Dan ternyata ditemui zaid sedang duduk sendirian, ia sedang menikmati sebatang rokok terakhir dari kretek favoritnya, dan itu yang membuatnya berdehem tadi, rasa gatal ditenggorokannya membuatnya tidak bisa menahan diri untuk berdehem, azka pasti marah besar lagi kalau tahu apa yang diperbuat zaid sekarang. Zaid menyadari kehadiran harun dan mengajaknya untuk ikut duduk dengannya.
Ia menikmati malam ini, malam-malam penuh kedamaian yang pasti sangat langka untuk ukuran negeri yang sedang diserang, memandang langit yang negitu cerah dangan taburan bintang-bintangnya, terlihat indah sekali, harun juga ikut menikmati ketenangan malam itu, sejenak suasana hening, tidak ada yang membuka suara, batang rokok terakhir itu telah habis dan ia membuangnya puntungnya, lalu membuka pembicaaan
“Kenapa masih belum tidur malam-malam begini anak muda?”
“Aku baru terbangun,” jawab harun singkat, ”mimpi buruk.”
“Wajar saja kalau kita selalu mimpi buruk,” ujar Zaid menanggapi.
“Cerita masa lalu, selalu saja hadir kembali, dan itu membuatku semakin sedih.”
Harun menceritakan perasaan hatinya.
“Tentang tragedi dulu? Kau harus mencoba melupakannya, atau kau akan tetap terperangkap dalam kesedihan tanpa akhir.” Ujar Zaid mencoba menasehati.
Harun melihat kearah Zaid, dipandangnya wajah itu, walaupun kelihatan menikmati malam ini dan bisa hidup tenang selama ini, ia tahu Zaid menanggung beban berat, wajah itu menyiratkan tanggung jawab yang besar sekali, ia sebagai kepala rumah tangga, harus melindungi anak dan istrinya ditengah situasi mengerikan sekarang ini, ya seperti ayahnya dulu terlihat wajah kekhawatiran dan lelah menanggung beban berat.
“Kau merokok zaid? Tidak takut dimarahin azka?” ujar harun mengalihkan pembicaraan.
“Sudahlah tak usah berkomentar, aku hanya mencoba menikmati waktu-waktu senggangku saja, siapa yang bisa memastikan besok kita akan bisa menikmati malam hari seperti ini lagi” jawab zaid sambil berdehem lagi, akibat rasa gatal ditenggorokkannya yang kembali datang.

0 Tanggapan ke “Menangisi Senja (13)”