by : Darin Sahiba
(sebagai syarat mengikuti lomba kreasi blog islami)
Kami tidak akan takut
Betapapun lemah dan kecilnya diri ini
Karena kami punya yang Maha Kuat dan Maha Besar bersama kami
Kami tidak akan takut
Betapapun menakutkan dan berkuasanya kalian
Karena kami punya yang Maha Mematikan dan Maha Berkuasa bersama kami
Kami tidak akan takut
Betapapun mudahnya kau melenyapkan nyawa kami
Karena kami punya yang menggenggam nyawa setiap orang bersama kami
Kami tidak akan takut
Betapapun kematian demi kematian akan kami temui
Karena kami punya pertukaran menguntungkan dengan pemilik nyawa ini
Kami tidak akan takut
Kami tidak akan takut
Meski kau hancurkan rumah kami, meski kau bunuh teman-teman kami
Meski peluru bersarang didada, meski tubuh hancur berkeping
Tidak akan takut
Tidak akan pernah takut
Saksikanlah kami
Para pasukan Allah akan melawan
Musuh-musuhNya yang ketakutan
Saksikanlah kami
Tidak mengenal kata takut
Tidak kenal
Tidak tahu
Dan tidak akan pernah
Karena takut hanyalah ada
padaNya semata
Pertempuran sengit terus berlangsung, tentara israel yang berusaha memasuki desa kecil itu tak dapat masuk mudah karena perlawanan sengit terus terjadi, berkali-kali mereka mencoba masuk namun selalu mendapatkan serangan dan terpaksa mereka kembali mundur ke perbatasan desa.
Seperti pertempuran kali ini, dengan gagahnya, para pahlawan itu sekali lagi berhasil menahan pergerakan tentara penjajah, walaupun mereka akan kembali lagi segera, dan semua orang sadar tak lama lagi mereka pasti tidak akan mampu lagi menahan tentara-tentara itu, ya tak lama lagi, namun itu tidak jadi masalaha, selama perjuangan dan perlawanan terus dilancarkan, meski akhirnya kalah dan menemui kematian, jiwa-jiwa syahid ini akan menghiasi langit-langit palestina membawa ruh perlawanan dimanapun diseluruh dunia ini, hingga akhirnya perdamaian dan kemerdakaan kami dapatkan
Tak terlihat wajah-wajah ketakutan disana, sebaliknya wajah-wajah bahagia apapun hasil dari perang ini, kemenangan atau syahid kedua-duanya merupakan pilihan yang menggembirakan, maka tidak ada alasan buat mereka untuk bersedih, meskipun di kondisi yang menyedihkan seperti ini.
Tak terkecuali usamah kecil, sang singa kecil yang siap mengaum, menerkam setiap musuh allah yang ditemui, usamah dengan semangat yang berkobar-kobar turut serta dalam perang ini, walaupun ia masih kecil dan hanya sekedar membantu dibelakang, dan tidak ikut serta langsung berhadapan dengan musuh, ia sudah cukup puas bisa diikutkan berperang, ia masih 10 tahun, usia yang sangat tidak cocok untuk ikut perang, ia seharusnya berada di sekolah saat ini, memperoleh ilmu pengetahuan sehingga bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak, namun inilah kondisi yang mau tidak mau harus diterimanya, semenjak kedatangan tentara Israel ke desa mereka, sekolah mereka, satu-satunya sekolah didesa itu diliburkan, karena memang alaan keamanan dan keadaan yang sangat tidak memungkinkan.
Usamah senang sekali saat itu karena mereka berhasil menang dan memukul mundur pasukan israel, setidaknya mereka bisa tidur nyenyak nanti malam, ya sebelum esok harinya tentara Israel pasti akan kembali mencoba menyerang dengan kekuatan yang lebih besar tentunya, keinginan mereka menguasai desa ini dan desa-desa lainnya benar-benar gigih dan sangat tidak masuk akal, penjajahan, ya mungkin inilah satu-satunya penjajahan yang masih ada sekarang ini, bahkan tidak ada yang berani mengganggu upaya penjajahan mereka, tapi kami juga tak kalah gigihnya melawan, ini kami anggap hadiah dari Allah SWt agar kami bisa lebih cepat menemuiNya, agar kami bisa lebih cepat menjadi syahid
Usamah pulang dengan hati berbunga-bunga dan menemui teman-temannya yang sedang bermain-main dilapangan pusat desa, dengan antusiasnya ia menceritakan pengalamannya tadi bagaimana, pasukan perlawanan dapat memukul mundur tentara penjajah itu.
“Ya mereka lari ketakutan”
“kamu ikut menembak juga usamah
“Aku berada disana, waktu perang itu”
“Kamu ikut menembak juga gak?”
“Kamu tidak takut usamah?”
“Tidak”
“Wah kamu memang pemberani”
“Ya kitra pasti menang dan tidak ada yang perlu ditakuti”
“Hei kamu ikut menembak juga gak?”
Aku..” sambil memperagakan cara memegang pistol
Akn menembakmu” sambil menggelitiki Ali
Sialan kamu.. hei lepaskan aku, geli tahu, hahaha” ali tak tahan digeliyiki
Usamah langsung berlari dan enggan untuk menjawab
“hei usamah kalau kau pergi ke kamp pasukan lagi, ajak-ajak donk”
“oke deh, tapi kalian, harus ikut ujian dulu”
Ujian apa?
Ujian agar bisa masuk kedalam barisan pasukan
Memangnya ada ujian seperti itu
Ya tentu saja ada
“hei ayo kita main perang-perangan”
“ayoo, aku ikut, tapi aku jadi pejuang palestinanya ya”
“ya, aku juga”
“aku juga”
“ikuuut, aku juga”
“hei lalu siapa yang jadi twntara israel nya
‘iya siapa yang mau jadi tentara Israel”
“aku gak mau”
Hei, ayo donk, kita sedang bermain, bagaimana mungkin tidak ada yang jadi musuhnya
“aku benci mereka
Aku juga
Lalu bagaimana, kita berperang lawan siapa donk
Iya nih aku sudah menyiapkan ketapel ku, pasti akan mengenai kepala penjahat itu
Ya aku juga, lihat nih ketapel ku lebih besar
Usamah kamu saja yang jadi israelnya
Aku..?
Iya kamu saja?
Tapi aku gak mau membela musuh kita
Iya kita semua pasti gak ada yang mau
Ya sudah kita main yang lain saja, oke
Tidak bisa aku ingin menembak Israel
Ya aku juga
Bagaimana ini usamah.
Aku punya ide tapi, aku tidak tahu apakah kalian setuju dan berani dengan ide ini
Maksudmu apa
Iya apa idenya usamah
Kalian mau menembak Israel
Ya tentu saja
Kalau begitu mengapa tidak kita temui saja mereka
Mereka? Para tentara Israel maksudmu?
Iya, mereka sekarang sedang berada di perbatasan desa, kita bisa kesana dan menyerang mereka
Wah berbahaya sekali itu uasamah,
Memang, tapi setelah itu kita harus bisa malarikan diri secepat mungkin
Asyik, ide yang bagus aku ikut denganmu usamah
Ya, hehe aku ingin melihat dari dekat para penjahat itu
Keren, aku ingin menembak mereka, ayo kita segera berangkat
Ya, segera sebelum langit semakin gelap, ayo kita berangkat
Anak-anak surga, luarbiasa keberanian mereka, tak terasa dalam ancaman perang meraka masih bisa bebas bermain sesuka hati mereka, tanpa merasakan ketakutan sedikitpun, bahkan syahid juga sudah menjadi cita-cita mereka semua, sesuatu yang diluar logika bisa difikirkan oleh anak-anak sekecil itu, hanya iman lah yang mampu menciptakan sebuah keyakinan penuh pada sang Pencipta yang melahirkan sebuah keberanian yang akan diakui sepanjang sejarah,

blogwalking